|
Kiriman : edo2000@astaga.com
Pelayanan belanja lewat telepon, Alphabet
berhasil mengayuh usahanya 19 tahun. Lewat usaha langganan koran,
majalah, susu dan ditambah dari BELL (BElanja Lewat Telepon), Alphabet
bisa meraup omzet lebih dari 50 juta sebulan. "Saya tidak bisa
memastikan angkanya berapa," tuturnya menghindar.
Pagi tepat pukul 04.00, puluhan bahkan
mungkin ratusan loper antre mendapatkan koran Pikiran Rakyat untuk
diedarkan kepada pelanggannya. Di barat dan utara Cikapundung, dekat
Gedung Merdeka-Asia Afrika, Bandung, para loper Alphabet bergabung dengan
loper agen surat kabar lainnya. "Nanti jam 05.00 pagi bakal ramai
lagi untuk Kompas," ungkap salah seorang awak Alphabet Agency.
Aktivitas para loper di lapangan itu
ternyata dibantu oleh puluhan tenaga administrasi di sentral pengendalian
di kantor bercat hijau di bilangan Holis, Bojong Raya, Bandung.
Layanan pelanggan koran dan majalah yang
khas dari Alphabet adalah Hotline 675-675. "Ini layanan utama kami
kepada pelanggan," ungkap Sani Teguh Santosa, pendiri sekaligus
direktur Alphabet. Dengan hotline itu Alphabet mengembangkan jaringan
ribuan pelanggan koran dan majalahnya. Melalui puluhan saluran bernomor
sama, Sani juga mengembangkan usaha langganan susu murni dan susu
kedelai.
"Jauh sebelum Jakarta memulai dengan
gembar-gembor belanja lewat telepon, saya sudah memberikan layanan
itu," tuturnya. Bisnis Sani--yang selalu enggan menyebut angka-angka
mengenai usahanya--melalui telepon ini mencakup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari seperti sembako dan racun tikus. "Tapi kami biasanya
menyediakan apa pun yang dipesan pelanggan," ungkap Sani setengah
menjamin.
Lewat usaha langganan koran, majalah, susu
dan ditambah dari BELL (BElanja Lewat Telepon), Alphabet bisa meraup
omzet lebih dari 50 juta sebulan. "Saya tidak bisa memastikan
angkanya berapa," tuturnya menghindar.
Siapa yang menyangka bisnis drop out
mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan itu bakal sesukses
sekarang. "Dulu semua mencibir," tuturnya. Sampai-sampai
kekasih yang dicintainya pun meninggalkan Sani.
Namun, ia tak gentar. Usaha yang dimulai
dengan patungan antara Sani dan seorang kawannya pada 1979 yang hanya
bermodalkan Rp150.000 itu terus dibangunnya. "Saya punya keyakinan
dan intuisi kuat, usaha ini bakal berhasil," ungkapnya. Taman bacaan
Alphabet-lah cikal bakal usaha Sani, bakan usaha pelayanan langganan
koran. Namun, usaha taman bacaan ini makin hari makin memburuk, pelanggan
berkurang serta jumlah buku tidak bertambah. Sesuai dengan permintaan
pelanggan taman bacaan, keduanya mulai mengembangkan usaha ke layanan
koran.
Pada 1983, temannya benar-benar menyerah.
Uang langganan koran dibawa kabur oleh loper. Alphabet tinggal sebelah
kaki. Akhirnya Sani berusaha meminjam koran ke agen lain dan mulai
mengirimkannya lagi. Lewat usaha yang dikatakan sangat perlahan, Alphabet
bisa menanjak kembali. Karena Sani saat itu juga bekerja sebagai tenaga
marketing perusahaan farmasi, ia terus meluaskan langganannya ke
dokter-dokter serta para koleganya.
Malang tak dapat ditolak, di tengah
perjalanan kedua kariernya, Sani tabrakan di Purwakarta. Akibatnya, ia
gegar otak. "Saat itu konsentrasi saya pecah memikirkan keduanya.
Akhirnya saya memutuskan untuk memilih salah satu," ungkapnya.
Pilihannya sudah bisa diduga: melayani pelanggan surat kabar.
Keyakinan kuatnya terbukti. Usaha
langganan koran dan majalahnya terus merangkak. Alphabet mengembangkannya
juga lewat pelayanan pembelian susu murni. "Mulanya dari permintaan
pelanggan koran saja," ungkapnya. Lama-lama usaha ini berkembang.
Setelah memberikan pelayanan susu murni, pesanan barang jenis lain
terutama layanan antar sembako makin bertambah. "Apalagi dalam
situasi seperti ini," ungkapnya.
Untuk pengembangan usahanya, pada 1993
Alphabet mendapatkan pinjaman Rp60 juta dari bank untuk membangun
markasnya di bilangan Holis. Setelah lunas, baru setahun ini, Sani
mengajukan permintaan kembali ke Bank Bali dan Bank NISP untuk
perpindahan kantornya. "Mengantisipasi permintaan pelanggan untuk
sembako," tuturnya pula.
Keberhasilan Sani tak lepas dari keyakinan
kuat akan bisnisnya. Kunci lainnya? "Pelayanan dan ketekunan,"
ungkap Sani. Menurutnya, bisnis koran dan majalah ini unik. "Kita
mengumpulkan dari ratusan hingga ribuan pelanggan hanya beberapa puluh
rupiah saja," tutur suami Dewi Wahyu ini. Keunikan ini, menurut
Sani, mungkin membuat banyak orang enggan untuk menerjuni bisnis ini.
Pelayanan harus prima karena banyaknya saingan, sedangkan keuntungan
tipis.
Ketekunan dijadikan Sani untuk mengayuh
bisnis ini, terutama pengelolaan uang. Biasanya para agen tidak mengelola
uangnya dengan baik. Uang milik penerbit sering kali dipakai untuk hal
lain bahkan untuk berfoya-foya, padahal itu nyawa para agen. Kiat lainnya
seperti bisnis jasa umumnya adalah pelayanan. Pelayanan kepada para
pelanggan sangat diperhatikan Alphabet. Salah satunya seperti telah
disebutkan ialah Hotline 675-675. "Saya menekankan kepada seluruh
staf administrasi agar bisa menjawab seluruh keluhan ringan
pelanggan," kata Sani. Jika keluhan berat, misalnya berkali-kali
pelanggan koran mendapatkan majalahnya terlambat, langsung ditangani
Sani.
"Itu saja rumusnya," ungkap
Sani. Yang menarik, Sani juga mengembangkan bisnisnya dengan menerbitkan
brosur informasi untuk pelanggan Alphabet. Brosur dibagi dua jenis: yang
satu brosur daftar harga, satunya lagi "Ariwara" yang
diterbitkan sejak tahun 1989. Sani menulis langsung brosur itu. Dengan
stensilan sederhana, brosur dua halaman itu tampak informatif: mulai dari
ucapan selamat untuk pelanggan, informasi buku, majalah dan koran baru
beserta harga dan topik-topiknya hingga keperluan sehari-hari, reuni,
peluang bisnis dan pencarian barang-barang bekas.
Dengan kiat seperti itu, saat krisis
bisnisnya tidak terlalu ambruk. "Namun, langganan majalah menurun,
apalagi tabloid baru hampir tak ada pelanggan. Hanya langganan koran yang
stabil," ungkap Sani. Untuk menyeimbangkan omzet, Sani menggenjot
layanan belanja lewat telepon. Saat ditanya kemungkinan perluasan Bebita
dan Dial Mart--usaha sejenis di Jakarta--ke Bandung, Sani berkata,
"Saya hanya ingin mempertahankan pelanggan yang ada sekarang saja.
Saya kira BELL seperti ini sudah cukup."
Karena ujung tombak Alphabet pelayanan,
untuk meningkatkan kualitas pegawainya Sani mengadakan ceramah tiga bulan
sekali. Namun, karena krisis saat ini kegiatan itu sudah tidak ada lagi.
Hal lainnya, karyawan dan loper Alphabet wajib membaca pengumuman yang
disediakan di ruang pengumuman.
Selain kualitas yang terus diperbaiki, Sani kini
tidak dipusingkan lagi oleh turn-over loper-nya. "Kini hanya 1% yang
keluar dari Alphabet," ungkapnya. Ada satu lagi yang tampaknya tak
boleh dilupakan, "Untung ada istri saya yang lulusan ASMI,"
katanya, "saya sangat berterima kasih kepadanya." (0000).
|