|
KAFE-KAFE JAKARTA,
SEMAKIN MEMANJAKAN PENGUNJUNG
SUMBER : MAJALAH CAKRAM
Persaingan bisnis kafe di Jakarta, mendorong parapengelola berlomba
memenjakan pengunjung. Ciri-ciri khas yang mereka tampilkan di kafenya
membuat pengunjung semakin terseleksi. Eksklusivitas itulah yang konon memang
dibutuhkan oleh pengunjung. Mereka memang tak sekedar cuma mau meninkmati
makanan.
Sebuah penelitian yang dimuat Asian Business, menyebutkan adanya beberapa
kesamaan ciri kelas menengah, yang ditemukan di beberapa negara. Ciri itu
antaralain, bersikap kosmopolitan, kebarat-baratan, serta senang bepergian.
Ketika menyinggung kondisi Jakarta, hasil riset itu menyebutkan adanya fenomena
baru dari kelompok masyarakattersebut, yaitu kebiasaan datang ke kafe-kafe.
Disebutkan, Hard Rock Cafe telah menjadi tempat yang selalu ramai dukunjungi.
Mengunjungi kafe-kafe yang biasanya berada di dekat pusat kota tampaknya
semakin menjadi kebutuhan mereka. Macam-macam alasan mereka datangke kafe.
Ati Kisjanto misalnya mengaku butuh pergi ke kafe atau tempat hiburan lain untuk
membantunya keluar dari suasana rutinitas kerja. Managing Director MACS909
ini menikmati keuntungan dari kebiasaan itu, antara lain bisa saling tukar
informasi dan gosip bila bertemu kawan dari biro iklan lain.
Sementara itu Cynthia Madeak, mengaku, "Setiap kali ada kafe baru, rasanya
seperti ada kewajiban untuk mencobanya. Meskipun nantinya akan kembali ke
kafe favorit saya." kata sekretaris di Komunika Asvertising ini. Dengan frekuensi
seminggu 3 kali, Cinthia bisa menghabiskan Rp. 80 ribu setiap kali datang.
Pengakuan mereka seolah menjelaskan hasil temuan tadi.
Perilaku sebagian masyarakat tersebut telah merangsang menjamurnya kafe,
khususnya di Jakarta. "Permintaan terhadap kebutuhan kafe di Jakarta memang
tinggi sekali," kata Riza A. Surya, Director of Sales & Marketing Jakarta Hilton
International. Saat ini di Jakarta diperkirakan ada sekitar 300 kafe yang
beroperasi.
Menjawab Persaingan
Bisa diduga jumlah ini cenderung bertambah. Persainganpun akan makin keras.
Namun demikian para pengelola kafe umumnya tetap optimis, Sita Tanjung,
misalnya tak bergeming, walaupun di Kawasan Kemang saja - tempat ia
membangun kafe Padussi - saat ini tak kurang 20 kafe telah beroperasi. Demikian
pula dengan pengelola Kafe Balemang. "Dengan munculnya banyak kafe,
konsumen justru dihadapkan oleh berbagai pilihan yang sesuai dengan selera,"
jelas Miralia Rajasa, Direktur Keuangan Balemang.
Demikian pula menurut Peter Maulana dan JTN Gunawan. "Pada waktu muncul
kafe baru, memang ada beberapa pengunjung setia yang hilang, tapi tak lama
kemudian muncul lagi," kata Peter, PR and Marketing Manager Kafe Zanzibar. Ini
yang membuat Peter tidak cemas dengan membengkaknya jumlah kafe. Sedangkan
menurut JTN Gunawan, Presiden Direktur News Cafe, tidak mungkin seseorang mengunjungi kafe yang sama stiap hari. "pasti ia akan mencoba yang lain'"
katanya.
Persaingan memang tak terhindarkan. "tapi persaingan ini malah membuktikan,
kafe yang sebenarnya diinginkan oleh pengunjung," kata Sita. Tapi di sisi lain
persaingan ini membuat tak semakin mudah mengelola kafe. "Banyak kafe baru
yang buka tapi tiga bulan kemudian hanya tinggal nama," ujarseorang sumber
CAKRAM. "Manajemen bagus tak menjamin suatu kafe bisa terus bertahan,"
tambahnya.
Kondisi tersebut pada akhirnya menantang kreativitas para pengelola kafe
menyuguhkan suasana-suasana eksklusif. Mulai dari program-program acara,
interior, makanan dan musik, yang kesemuanya mengacu pada upaya memnajakan
pengunjung. Menurut Supena Adiapura, Executive Creative Director TNT
Advertising yang kerap berkunjung ke kafe, saat ini sebiuah kafe memang dituntut
mampu menciptakan karakter tersendiri untuk dapat memikat pengunjung.
"Ciri khas atau suasana dari suatu kafe bisa menjadi nilai tambah bagi kafe itu.
Karena kalau tidak, apa bedanya dengan makan di Kantin?" kata Supena. Bahkan
Cynthia Madeak mengatakan, "Suasana di satu kafe kadang tidak bisa dibeli di
kafe lain." Itulah yang membuat ia keranjingan datang ke kafe favoritnya di
kawasan Kemang.
Beragam Tema
Kondisi tersebut mendorong para pengelola menampilkan keunggulan
masing-masing. Terutama suasana yang diciptakan supaya bisa ditemukan di kafe
lain. Ada kafe Pasir Putih dengan nuansa pantai, Kafe Jimbani dengan nuansa
Bali, atau Batavia yang punya sentuhan Jakarta Tempo doeloe. Sedangkan
Champions tampil dengan pernik-pernik olahraganya, dan kafe Jalan-Jalan yang
menawarkan konsep one roof entertainment. Di samping yang disebut tadi masih
ada seabreg kafe lain dengan suasana khasnya masing-masing.
Di bawah bendera PT Balemang Boga, Kafe Balemang misalnya menawarkan
suasana bernuansa Bali. Konsep kafe ini mengacu pada suasana Nusa Dua,
daerah up-market di Bali. Selain bisa menikmati innterior yang bernuansa Bali,
pengunjung juga bisa lesehan di bale-bale. "Dengan konsep ini para eksklusif
Jakarta yang rindu dengan suasana asli Bali tidak usah pergi jauh-jauh ke Bali.
Cukup berkunjung ke Balemang," jelas Mira.
Di kafe ini juga ada mezzanine floor yang terletak dekat panggung antara lantai
satu dan lantai dua. Dari mezzanine floor ini tamu dapat dengan leluasa
menyaksikan suasana panggung dari atas sekaligus suasana di lantai atas. Sambil
menikmati aneka masakan Italia, pengunjung Balemang dihibur oleh band-band
terbaik ibukota.
Sementara itu tema etnik menghias di Kafe Padussi. Dinding dan interior Padussi
penuh dengan barang-barang etnik dari berbagai propinsi. Barang-barang ini
tidak sulit diperoleh Sitta. Kebetulan ibunya mengelola sebuah galery
shop."Kalau ada tamu yang tertarik membeli, barang-barang ini akan dilepas,"
jelasnya.
Dengan konsep etnik, Sitta tak menghadirkan levi music di kafenya. Meski
menyadari selera orang Indonesia yang suka mencari musik di kafe. "Tapi justru
banyak juga pengunjung yang mencari suasana sepi di kafe," katanya. Buktinya
para pengunjung setia Padussi keberatan ketika suatu kali, Sitta berencana
menghadirkan live music di kafenya. Jadi, "Di samping memenuhi keinginan
pengunjung, sekaligus saya pertahankan konsep kafenya,' jelas mantan model ini.
Konsep serupa ada di Zanzibar. Menurut Peter Maulana, sejak semula Zanzibar
menghadirkan suasana feeling at home. Pertunjukan musik hanya hadir dalam
kesempatan khusus. "Kami takut pengunjung tidak bisa ngobrol dengan tenang dan
malah merasa terganggu," katanya. Saat ini Zanzibar hanya menyuguhkan alunan
musik tahun 70-an. Bekerja sama dengan Majalah Tara, kafe ini sering
mengadakan acara untuk pengunjungnya. Sementara beberapa majalah wanita
sering memanfaatkan suasana kafe untuk foto session.
Konsep yang berbeda ditampilkan News Cafe. Sejak pertama kafe di bilangan
Kuningan ini dibuat untuk tempat tukar menukar informasi. Siapa saja yang
membutuhkan informasi atau berita-berita terkini, bisa singgah. Tak heran jika
marketnya khusus, yang kebanyakan para eksekutif. "Citra sebagai kafe eksekutif
sama sekali tidak bisa dihindari, meskipun pada saat-saat tertentu ramai juga
dijkunjungi para ABG," jelas JTN Gunawan.
Umurnya yang 5 tahun semakin mematangkan konsepnya. Hal ini terlihgat pada
kemasan acaranya. Canda Bisnis dan Canda Sekretaris adalah contoh acara yang
memadukan hiburan dan tukar menukar informasi bagi para akesekutif muda.
Sementara News Corner, The Headline dan yang terbaru Internet, menghiasi sudut
interior kafe ini. Untuk lebih menajamkan konsepnya, News Cafe berencana
membuat press center. Uniknya di salah satu sudut kafe ini terpajang beberpa
sampul majalah terkenal ibu kota. Bekerja sama dengan majalah-majalah tersebut,
News Cafe berusaha menampilkan informasi terdepan yang dibutuhkan oleh
pengunjungnya.
Suasana-suasana yang ditawarkan para pengelola kafe, adalah jawaban terhadap
persaingan yang mereka hadapi. Yang jelas konsumen makin dimanjakan.
Bagi mereka tersedia beragam pilihan. Tinggal menyesuaikan dengan selera, atau gaya
kafe mana yang sesuai dengan identitas yang tengah di bangun...
|
|